Senin, 02 Januari 2012

PRODUKTIVITAS LAHAN RAWA


MAKALAH EKOLOGI LAHAN RAWA
PRODUKTIVITAS LAHAN RAWA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……............................................................................... i
DAFTAR ISI……............................................................................................. ii
BAB   I PENDAHULUAN……...................................................................... 1
1.1  Latar Belakang……........................................................................... 1
1.2  Tujuan…............................................................................................. 1
BAB   II..................................................................................................... PEMBAHASAN ……..                  2
2.2  Potensi Lahan Rawa …….................................................................. 4
2.3  Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan Rawa................................. 6
BAB   III PENUTUP
3.1    Kesimpulan................................................................................ ....... 9
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Indonesia memiliki lahan rawa terluas di kawasan tropika dengan bahan sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanah gambut, atau kombinasi keduanya. Diperkirakan rawa yang ada di Indonesia layak untuk budidaya pertanian. Lahan rawa yang cocok untuk budidaya tanaman umumnya adalah yang bebas dari pirit minimal di zona perakaran, dan gambut tipis yang tetap  bersifat hidrofilik.  Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak. Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan
Lahan rawa (lebak dan pasang surut) memiliki potensi besar untuk dijadikan pilihan strategis guna pengembangan areal produksi pertanian kedepan yang menghadapi tantangan makin kompleks, terutama untuk mengimbangi penciutan lahan subur maupun peningkatan permintaan  produksi,  termasuk  ketahanan  pangan  dan  pengembangan  agribisnis
Pemanfaatan  lahan  rawa  masih  sangat terbatas  akibat  keterbatasan  teknologi  dan  varietas. Untuk memanfaatkan lahan rawa tersebut, diperlukan  teknologi  yang  dapat  menghadapi  permasalahan  serius. 
1.2.Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui lahan rawa, potensi yang dimiliki lahan rawa dan pemanfaatannya agar dapat meningkatkan nilai produktivitas lahan rawa tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Lahan Rawa
Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.
Lahan rawa merupakan lahan yang menempati posisi peralihan antara daratan dan perairan, selalu tergenang sepanjang tahun atau selama kurun waktu tertentu, genangannya relatif dangkal, dan terbentuk karena drainase yang terhambat.
Indonesia memiliki lahan rawa terluas di kawasan tropika dengan bahan sedimen yang terdiri atas tanah mineral, tanah gambut, atau kombinasi keduanya. Luas total lahan rawa belum dapat diidentifikasi secara pasti, ada yang menyebut luas lahan gambut Indonesia 34 juta ha, dan ada yang mengatakan 27,7 juta ha.  Diperkirakan rawa yang layak untuk budidaya pertanian sekitar 6 - 7  juta ha. Lahan rawa yang cocok untuk budidaya tanaman umumnya adalah yang bebas dari pirit minimal di zona perakaran, dan gambut tipis yang tetap  bersifat hidrofilik. Rawa yang tidak cocok untuk dikembangkan umumnya berupa gambut tebal dan tanah sulfat masam/berpirit pada jeluk yang dangkal.
Ekosistem lahan rawa bersifat rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena alam (kekeringan, kebakaran, kebanjiran) maupun karena kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai beragam kendala. Misalnya, tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik dan mudah ambles. Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2-3) dan meningkatnya kelarutan.
Ekosistem lahan rawa memiliki sifat khusus yang berbeda dengan ekosistem lainnya. Lahan rawa dibedakan menjadi lahan rawa pasang surut dan lahan rawa non pasang surut (lebak). Lahan rawa pasang surut adalah lahan yang airnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai, sedangkan lahan lebak adalah lahan yang airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun di wilayah setempat atau di daerah lainnya disekitar hulu.
Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpensatif. Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.
Fungsi air di lahan rawa antara lain:
a)      sebagai tandon air di musim hujan, terutama di rawa belakang (backswamp);
b)      sebagai pelepas air secara perlahan lahan bilamana sumber air hujan/debit air sungai menurun di musim kemarau (aliran dari rawa belakang ke sungai);
c)      untuk mempertahankan suasana reduksi bilamana aliran lateral dalam tanah (seepage) sangat lambat. Di daerah rawa yang belum direklamasi, fungsi ini berjalan sangat bagus. Kelebihan air akan mengalir ke luar rawa melalui aliran permukaan yang terakumulasi dalam saluran alami sempit yang melebar ke arah sungai.
Pengelolaan air di lahan rawa dapat diartikan sebagai pemanfaatan air secara tepat untuk keperluan domestik, meningkatkan produksi tanaman, antara lain untuk kebutuhan evapotranspirasi, pembuangan kelebihan air, mencegah terbentuknya bahan toksik dan melindi elemen toksik yang terjadi, serta mencegah penurunan muka tanah. Pengelolaan air ini sebetulnya mencakup kuantitas dan kualitas yang diinginkan oleh tanaman yang dibudidayakan dan rumah tangga. 

2.2  Potensi Lahan Rawa
Dari segi ekonomi lahan rawa mempunyai keragaman lingkungan fisik, sifat dan watak tanah, kesuburan tanah, dan tingkat produktivitas lahan. Sebagai akibatnya keragaman hasil produksi tanaman dan pendapatan petani akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, terlebih lagi apabila terdapat perbedaan dalam pemberian masukan, teknologi budidaya dan pengelolaan lahan. Lahan rawa berpotensi menjadi alternatif yang potensial diusahakan, umumnya untuk bidang pertanian.
Pemanfaatan hutan rawa utamanya lahan gambut untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan menghadapi kendala yang cukup berat, terutama dalam mengelola dan mempertahankan produktivitas lahan. Keberhasilan pengembangan lahan gambut di suatu wilayah tidak menjadi jaminan bahwa di tempat lain akan berhasil pula.
Pemanfaatan lahan yang tidak cermat dan tidak sesuai dengan karakteristiknya dapat merusak keseimbangan ekologis wilayah. Berkurang atau hilangnya kawasan hutan rawa gambut akan menurunkan kualitas lingkungan, bahkan menyebabkan banjir pada musim hujan serta kekeringan dan kebakaran pada musim kemarau. Upaya pendalaman saluran untuk mengatasi banjir, dan pembuatan saluran baru untuk mempercepat pengeluaran air justru menimbulkan dampak yang lebih buruk,yaitu lahan pertanian di sekitarnya menjadi kering dan masam, tidak produktif, dan akhirnya menjadi lahan tidur, bongkor, dan mudah terbakar. Hutan rawa gambut mempunyai nilai konservasi yang sangat tinggi dan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi hidrologi,cadangan karbon, dan biodiversitas yang penting untuk kenyamanan lingkungan dan kehidupan satwa. Jika ekosistemnya terganggu maka intensitas dan frekuensi bencana alam akan makin sering terjadi, bahkan  lahan gambut tidak hanya dapat menjadi sumber CO2, tetapi juga gas rumah kaca lainnya seperti metana (CH4) dan nitrousoksida (N2O).
Pengembangan lahan gambut untuk pertanian menghadapi banyak kendala, antara lain: (1) tingkat kesuburan tanah rendah, pH tanah masam, kandungan unsur hara NPK relatif rendah, dan kahat unsur mikro Cu, Bo, Mn dan Zn; (2) penurunan permukaan tanah yang besar setelah di-drainase; (3) daya tahan (bearing capa-city) rendah sehingga tanaman pohon dapat tumbang, dan; (4) sifat mengkerut tak balik, yang dapat menurunkan daya retensi air dan membuatnya peka erosi.Sehubungan dengan hal itu, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian pada awalnya memerlukan investasi yang besar.
Potensi dan Kesesuian Lahan Rawa Gambut untuk Pertanian
Potensi lahan gambut untuk pengembangan pertanian dipengaruhi oleh  kesuburan alami gambut dan tingkat manajemen usaha tani yang diterapkan. Produktivitas usaha tani lahan gambut pada tingkat petani, dengan input rendah sampai sedang, berbeda dengan produktivitas lahan gambut dengan tingkat manajemen tinggi yang biasanya diterapkan oleh swasta atau perusahaan besar. Tanaman yang dapat digunakan untuk memanfaatkan lahan rawa gambut misalnya :
a.         Padi Sawah
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah tanah bergambut (teballapisan gambut 20-50 cm) dan gambutdangkal (0,5-1,0 m). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m). Lahan rawa gambut dengan ketebalan lebih dari 2 m tidak sesuai untuk padi; tanaman tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur mikro, khususnya Cu.
b.        Tanaman Palawija, Hortikultura, dan Tanaman Lahan Kering Semusim
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk tanaman pangan semusim adalah gambut dangkal dan gambut sedang (ketebalan gambut 1-2 m). Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam dan turun secara drastis, serta mencegah terjadinya gejala kering tak balik, penurunan permukaan gambut yang berlebihan danoksidasi lapisan yang mengandung bahan sulfidik (pirit).
Penggunaan lahan rawa pasang surut yang bertopografi datar untuk tanaman pangan lahan kering umumnya dengan menerapkan sistem ’surjan’.  Dalam sistem ini, lahan secara bersamaan dimanfaatkan untuk padi sawah (pada tabukan) dan tanaman lahan kering (pada pematang).Tujuan utamanya adalah untuk memanfaatkan lahan secara optimal melalui pengelolaan air yang tepat. Pengembangan surjan memberikan keuntungan komparatif berupa: (1) produksi lebih stabil, terutama untuk tanaman padi; (2) pengelolaan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih murah; (3) intensitas tanaman lebih tinggi; dan (4) kemungkinan diversifikasi lebih besar.Pembuatan surjan di lahan rawa perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu kedalaman lapisan bahan sulfidik (pirit), tipe luapan air, ketebalan gambut, dan peruntukan lahan atau jenis komoditas yang akan dikembangkan.
c.         Tanaman Tahunan/Perkebunan
Lahan rawa gambut yang sesuai untuk tanaman tahunan/perkebunan adalah yang memiliki ketebalan gambut 2-3 m. Beberapa tanaman yang dapat tumbuh baik adalah lain, karet, kelapa sawit, kopi, kakao, rami dan sagu. Seperti pada tanaman semusim, pengelolaan air pada tanaman perkebunan perlu diperhatikan dengan seksama. Pengeluaran air secara berlebihan akan menyebabkan gambut menjadi kering dan berpotensi mudah terbakar. Untuk menjaga keseimbangan ekologis, kedalaman saluran drainase untuk tanaman karet disarankan sekitar 20 cm dan untuk tanaman kelapa sawit maksimal 80 cm. Pada lahan rawa gambut dengan ketebalan lebih dari 3 m, tanpa input dan manajemen tingkat tinggi, tanaman tidak produktif. Pemanfaatan lahan gambut dalam, lebih dari 3 m, untuk pengembangan pertanian menghadapi berbagai kendala, terutama pada tingkat manajemen rendah sampai sedang. Pertumbuhan tanaman terganggu karena kesuburan tanah rendah dan kahat unsur hara mikro, di samping kesulitan dalam mendesain saluran drainase. Tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit, masih dapat dikembangkan pada lahan rawa gambut yang tidak terlalu dalam bila disertai dengan pengelolaan air yang memadai dan pemberian amelioran.
2.3  Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan Rawa
Produktivitas lahan rawa dapat ditingkatkan melalui pendekatan varietas, pengelolaan hara dan air serta penataan lahan. Bila dilakukan optimalisasi lahan rawa dengan teknologi inovasi baru khusus untuk lahan rawa. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang holistik menyangkut aspek perbaikan agrofisik lahan (tanah, air, dan tanaman) dan kemampuan sosial ekonomi (modal, kelembagaan, dan adaibudaya). Keragaman hasil yang dicapai pertanian lahan rawa cukup memadai walaupun masih beragam akibat keberagaman dari sifat agrofisik lahan (tipologi lahan, tipe luapan, mintakat perairan), teknologi pengelolaan, dan penggunaan masukan (input) seperti varietas, kapur, pupuk, dan lainnya.
Produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun seperti pada umumnya petani, penanganan pasca panen, termasuk pengelolaan hasil masih lemah, terkait juga dengan pemasaran hasil yang terbatas sehingga diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah propinsi/kabupaten dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani rawa.
Selain tanaman pangan (padi, palawija, dan umbi-umbian) dan perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit), beberapa tanaman sayur-mayur (kubis, tom at, selada, dan cabai) dan buah-buah seperti rambutan, yang memadai dengan pengelolaan yang baik. 
Pengelolaan secara hati-hati dari berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi :
(1)          Pengelolaan air;
Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa.
Dalam rancangan infrastruktur hidrologi, pengelolaan air dibedakan menjadi :
a.    pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan reklamasi dan
b.    pengelolaan air mikro, yaitu pengaturan air pada tingkat tersier dan petak petani.
(2)          Pengolahan tanah;
a.    biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah melumpur di waktu lahan digenangi.
b.    oleh karena itu petani biasanya hanya menggunakan tajuk atau melaksanakan pengolahan tanah minimum. Namun ada lahan yang telah lama dibuka biasanya tanahnya telah mengeras membentuk bongkah-bongkah.
(3)          ameliorasi dan pemupukan;
(4)          Pola tanam ;
(5)          Pemberantasan hama dan penyakit;
a.    hama dan penyakit ini mampu mengagalkan panen sampai 100%. Karenanya pengendalian hama dan penyakit untuk menjaga produktivitas sangat diperlukan.
b.    faktor penting teknis produksi untuk meningkatkan produktivitas sawah di lahan rawa adalah pengendalian hama dan penyakit. Kondisi lahan rawa yang panas dan lembab sangat cocok bagi perkembangan hama dan penyakit tanaman. Hama-hama penting di sawah rawa adalah tikus, wereng coklat dan penggerek batang untuk padi dan penggerek polong untuk kedelai.
(6)          Panen dan pasca panen.

Pemanfaatan lahan rawa yang bijak serta pengelolaan yang serasi dengan karakteristik, sifat dan perilakunya serta didukung oleh pembangunan prasarana fisik (terutama tata air), sarana, pembinaan sumberdaya manusia dan penerapan teknologi spesifik lokasi diharapkan dijadikan dasar pengembangan lahan rawa secara lestari dan berwawasan lingkungan. Konsep pemanfaatan rawa sebaiknya berupa pengubahan peruntukan tanpa harus mengubah fungsi rawanya. Kalau mengubah fungsi (tandon air) rawa, maka rawa menjadi lahan kering (tadah hujan) yang kualitas lahan keringnya tidak sama dengan lahan kering bentukan alam.
Permasalahan yang selama ini ditemui dalam pemanfaatan lahan  rawa untuk pertanian adalah: 1) sistem tata air yang belum terkendali, 2) rendahnya tingkat kesuburan tanah, 3) masalah biologi  berupa gangguan  hama, penyakit dan gulma, 4) masalah sosial ekonomi seperti tenaga kerja, keterbatasan modal, tingkat  pendidikan,  pemberdayaan petani, kelembagaan, status tanah, tenaga penggarap, koordinasi, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai.
BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Indonesia memiliki lahan rawa terluas, hal ini dapat dimanfaatkan karena lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk dikembangkan khususnya di bidang  pertanian. Lahan rawa memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan, hal ini dapat dilihat dari sifat dan karakteristik lahan rawa yang merupakan lahan peralihan diantara sistem daratan maupun sistem perairan, sepanjang tahun atau dalam waktu yang panjang dalam setahun selalu tergenang air, permukaan air tanahnya dangkal, topografinya relatif datar, dan sebagian besar lahan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Potensi lahan gambut untuk pengembangan pertanian dipengaruhi oleh  kesuburan alami gambut dan tingkat manajemen usaha tani yang diterapkan. Beberapa contoh tanaman yang dapat dikembangkan dalam pemanfaatan lahan rawa utamanya lahan rawa gambut misalnya adalah tanaman padi, tanaman Palawija, Hortikultura, dan tanaman Lahan Kering Semusim, serta tanaman tahunan/Perkebunan. Selain tanaman pangan (padi, palawija, dan umbi-umbian) dan perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit), beberapa tanaman sayur-mayur (kubis, tomat, selada, dan cabai) dan buah-buah seperti rambutan juga dapat dikembangkan namun dengan pengelolaan yang baik.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa harus dengan pengelolaan yang baik dan secara hati-hati dari berbagai aspek untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi :
(1) pengelolaan air;
(2) pengolahan tanah;
(3) ameliorasi dan pemupukan;
(4) pola tanam;
(5) pemberantasan hama dan penyakit;
(6) panen dan pasca panen.
DAFTAR PUSTAKA

Askari, Wahyu. 2011. Pengelolaan Lahan Rawa.
diakses tanggal 14 November 2011.
Noor, Muhammad dan Achmadi Jumberi. 2005. Persoalan Memajukan Pertanian Lahan Rawa.

Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 2006. Pola Kebijakan Pemanfaatan Sumberdaya Lahan Basah, Rawa, dan Pantai.

Sudana, Wayan. 2005. Potensi dan Prospek Lahan Rawa sebagai Sumber Produksi Pertanian.

Suparwoto dan waluyo. 2009. Peningkatan Pendapatan Petani di Rawa Lebak Melalui Penganekaragaman Komuditas. Jurnal Pembangunan Manusia.

Tim Sintesis Kebijakan. 2008. Pemanfaatan dan Konservasi Ekosistem Lahan Rawa Gambut di Kalimantan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar