Senin, 02 Januari 2012

Pemanfaatan Daun Ketapang sebagai Media Penurun pH Air Sisa Cucian


ini adalah makalah tugas teknologi lingkungan tepat guna oleh kelompok Dewi Rosani, Suci Amelia, dan Faulina Milianie
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Zaman modern sekarang ini, masyarakat telah banyak menggunakan jasa laundry. Usaha laundry merupakan kegiatan usaha jasa yang banyak menghasilkan limbah cair. Pembuangan limbah yang berasal dari kegiatan usaha laundry masih dibuang ke lingkungan tanpa ada pengolahan. Limbah laundry mengandung senyawa aktif metilen biru (surfaktan) yang sulit terdegradasi dan berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Diperlukan suatu upaya pengolahan limbah yang berasal dari kegiatan laundry untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
Kegiatan usaha laundry menghasilkan suatu limbah yang berupa cairan, sisa air cucian yang bersifat basa. Kebanyakan limbah cair ini dibuang ke badan air seperti sungai. Hal ini bisa menyebabkan badan air menjadi tercemar atau bersifat basa. Salah satu upaya sederhana untuk pengurangan pencemaran yaitu dengan menurunkan pH sisa air cucian terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air. Penurunan pH, dapat dilakukan dengan cara merendamkan daun ketapang kedalam air sisa cucian tersebut.
Ketapang dalam bahasa ilmiah adalah terminalia catappa, atau sering disebut dengan kenari tropis. Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman peneduh karena daunnya yang membentuk seperti payung. Setiap harinya selalu ada daun kering yang berguguran dan menjadi sampah karena tidak digunakan. Pohon ketapang menghasilkan racun pada daunnya yang berguna untuk melindungi dari gangguan serangga dan parasit. Oleh karena itu kita tidak akan menemukan pohon ketapang diserang oleh hama. Daun yang kering ketika terendam air akan menghasilkan air yang berwarna kuning kecoklatan. Air tersebut mengandung asam organic seperti humic dan tannin.
Sifat-sifat basa yaitu mempunyai rasa pahit dan merusak kulit, terasa licin seperti sabun bila terkena kulit, dapat mengubah kertas lakmus merah menjadi kertas lakmus biru, dapat menetralkan asam.
Alat untuk mengukur skala keasaman atau pH adalah pH meter dan indikator universal. Skala pH nya adalah antara 0-14. Tingkatan keasaman yaitu,apabila nilainya 0-6,9 maka disebut asam. Apabila nilainya 7 adalah netra. Dan jika lebih dari 7, yaitu 7,1-14 disebut basa.

2.1  Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan alternative sebagai penurun pH air sisa cucian.

2.2  Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain:
1.    Memanfaatkan daun ketapang yang banyak terdapat di sekitar kita untuk menurunkan pH air sisa cucian secara alami.
2.    Membuat air sisa cucian menjadi lebih aman untuk dibuang ke lingkungan.
3.    Dalam sekala besar dapat diterapkan pada industry laundry.


.



BAB II
METODE PENELITIAN

2.1       Umum
            Pada percobaan mengenai penurunan pH air sisa cucian dengan alternatif  bahan baku daun ketapang kering ini dilakukan dengan cara sederhana. Teknologi daun ketapang kering ini telah lama digunakan dalam penurunan pH air karena dapat menurunkan pH air pada akuarium. Pada percobaan ini akan membahas mengenai proses penurunan pH air sisa cucian dengan menggunakan daun ketapang kering.
            Percobaan ini berlangsung selama 6 hari, dikarenakan proses dilakukan mulai dari mengeringkan daun ketapang hingga daun ketapang siap untuk digunakan. Proses perendaman berlangsung selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan pengukuran pH.
           
2.2       Objek Percobaan
            Sebagai objek percobaan ini adalah daun ketapang kering sebagai bahan baku penurun pH.
2.3       Bahan dan Alat Percobaan
            a.   Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1.         daun ketapang kering
IMG00813-20111104-1252.jpg



2.         air sisa cucian.
IMG00852-20111110-1519.jpg
b.   Alat
            Alat yangdigunakan dalam percobaan ini adalah:
1.      Ember/wadah

IMG00825-20111110-1405.jpg

2.      Kertas pH
IMG00810-20111104-1248.jpg



2.4       Prosedur Kerja
1.      Memilih daun ketapang kering yang baik.
2.      Membersihkan daun ketapang kering dari kotoran-kotoran yang menempel pada daun.
3.      Mengeringkan daun ketapang di bawah sinar matahari agar daun lebih kering lagi.
4.      Menyiapkan air sisa cucian sabun di dalam wadah atau ember.
5.      Mengukur pH awal air sisa cucian sabun dengan menggunakan kertas lakmus.
6.      Menghitung pH awal air sisa cucian sabun.
IMG00820-20111109-0929.jpg
7.      Merendam daun ketapang yang sudah kering kedalam air sisa cucian sabun.
8.      Mengukur pH rendaman daun ketapang pada air sabun setiap 1x24 jam selama 3  hari.

2.5       Rencana Anggaran Biaya
Anggaran biaya untuk penurunan pH air sisa cucian menggunakan daun ketapang kering  adalah sebesar Rp 10.000,- dengan rincian sebagai berikut :
Tabel  1  Anggaran biaya pembuatan alat
No.
Nama Barang
Harga
1
Air Sisa Cucian
Tersedia 
2
Daun Ketapang
 Tersedia
3
5 Kertas pH
Rp. 10.000,00 
Jumlah
 Rp. 10.000,00
2.6         Hasil Pengujian
Dari hasil pengujian yang telah kami lakukan dihasilkan data sebagai berikut:
Tabel 1. Pengukuran pH dari hari pertama hingga ketiga
Hari ke-
pH
0
1
2
8

Air sisa cucian yang mempunyai pH awal 9 setelah direndam dengan daun ketapang selama 3 hari mengalami penurunan pH, yaitu menjadi 8. Pada air bekas rendaman daun ketapang berwarna coklat gelap dan keruh oleh serat daun ketapang. Karena warna coklat tersebut diakibatkan oleh asam tannin pada kandungan daun ketapang kering sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.



BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini antara lain:
·         Daun ketapang mengandung asam organik seperti humic dan tannin yang dapat menurunkan pH air.
·         pH air sisa cucian yang pH awal 9 setelah direndam 1 x 24 jam turun menjadi 8.
·         Teknologi sederhana ini dapat diterapkan di industri laundri yang banyak menghasilkan limbah detergen sehingga lebih aman untuk dibuang ke lingkungan.

3.2        Saran
·           Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap penurunan pH dengan penggantian daun ketapang kering.
·           Disarankan pengukuran dilakukan dengan pH meter agar nilai penurunan keasamannya lebih jelas terlihat.

           



BAB V
HASIL PRESENTASI

1.      Koreksi
Dari hasil presentasi pada Jum’at tanggal 9 Desember 2011 di ruang 9 Fakultas Teknik Banjarbaru, dapat dikoreksi :
a.       Perlu dilakukan percobaan terhadap daun ketapang yang digunakan, yakni daun ketapang yang masih segar/masih hijau untuk membandingkan dengan pemakaian daun ketapang kering.
b.      Perlu dilakukan percobaan mengenai bentuk daun ketapang yang digunakan, yakni daun ketapang yang berbentuk lain selain berbentuk daun utuh.
c.       Perlu dilakukan percobaan yang lebih lama, dalam hal ini adalah perendaman daun ketapang untuk mengetahui seberapa besar kemampuan daun ketapang dalam menurunkan pH.
d.       Pada saat pengukuran pH rendaman perlu dilakukan pengadukan agar merata keseluruhan ekstrak daun ketapang.

2.      Analisa
Dari koreksi –koreksi seperti diatas dapat dianalisa :
a.       Daun ketapang diketahui memiliki asam organic yaitu humic dan tannin yang dapat menurunkan pH.  Pemakaian daun ketapang yang masih segar atau yang masih hijau dilakukan untuk mengetahui apakah daun tersebut dapat menurunkan pH seperti daun ketapang kering atau tidak. Jika daun ketapang segar atau yang masih hijau dapat menurunkan pH juga. Dan membandingkan daun ketapang mana yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menurunkan pH.
b.      Bentuk daun ketapang yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa lembaran atau daun utuh. Daun ketapang yang digunakan misalnya dihancurkan terlebih dahulu atau dijadikan serbuk sebenarnya hanya untuk mempermudah dalam perendaman dan mempermudah dalam hal penggunaannya. Namun belum dapat dipastikan dosis yang tepat dalam pemberian daun ketapang yang sudah dihancurkan untuk menurunkan pH.
c.       Perendaman daun ketapang yang lebih lama dimungkinkan untuk memaksimalkan kemampuan daun ketapang dalam menurunkan pH. Semakin lama daun ketapang direndam kemungkinan akan semakin banyak ekstrak daun ketapang yang bercampur dalam air limbah. Banyaknya ekstrak tersebut berpengaruh terhadap tingkat keasaman sehingga memungkinkan pH air limbah semakin turun.
d.      Ketika pengukuran rendaman daun ketapang diperlukan pengadukan agar ekstrak daun ketapang tidak mengendap di dasar sehingga dapat dilakukan pengukuran lebih akurat apabila dilakukan pengadukan ektrak secara merata untuk mengetahui tingkat penurunan pH.

3.      Pembahasan
Dari hasil koreksi dan analisa maka dapat didapatkan bahwa diperlukannya penelitian lebih lanjut dan penelitian dengan berbagai variable untuk mendapatkan variasi data. Pemakaian daun ketapang yang segar (masih hijau) dan daun ketapang yang sudah kering dilakukan untuk mengetahui daun mana yang memiliki kemampuan terbesar dalam menurunkan pH. Daun ketapang diketahui memiliki kandungan asam organic humic dan tannin. Namun diperlukan penelitian yang lebih mendalam mengenai asam organic terbesar berada di daun yang mana.
Penggunaan daun ketapang yang berupa lembaran ( utuh ) maupun penggunaan daun ketapang yang dihancurkan ( serbuk ) sepertinya memiliki kegunaan yang sama, hanya saja terletak pada efisiensi penggunaannya. Bentuk serbuk sepertinya lebih mudah digunakan dibandingkan dengan daun yang berbentuk lembaran. Bentuk serbuk memiliki keunggulan tersendiri misalnya dalam hal pengembangannya yakni lebih mudah untuk dibawa ataupun dalam hal penyimpanannya dalam skala besar.
Waktu perendaman yang dilakukan ketika penelitian termasuk singkat yakni 2-3 hari. Perlunya dilakukan perendaman yang lebih lama untuk mengetahui penurunan pH secara signifikan. Ketika penelitian dengan waktu 2-3 hari hanya menghasilkan penurunan pH dari 9 menjadi 8. Perendaman yang lebih lama kemungkinan akan menghasilkan penurunan pH lebih dari 1.
Ketika pengukuran pH perlu dilakukan pengadukan agar tercampur antara ekstrak daun ketapang dan air limbah. Ketika penelitian tidak dilakukan pengadukan pada saat pengukuran pH. Kandungan asam organic yang dapat menurunkan pH terletak di dasar rendaman maka untuk itu diperlukan pengadukan agar hasil yang didapat bias semaksimal mungkin.


dalam penelitian ini masih banyak kekurangannya.. Sehingga saran yang membangun sangat diperlukan untuk menyempurnakan penelitian ini..

2 komentar:

  1. kenapa harus dengan daun ketapang yang kering,dan mengapa tidak daun ketapang yang tidak kering saja.mohon penjelasannya

    BalasHapus
  2. Karena kandungan air di daun ketapang telah di minimalisir

    BalasHapus